Selasa, 23 Januari 2018

Belajar dari perjalanan


                                                            Belajar dari perjalanan

    Tanpa melakukan perjalanan kita tidak akan pernah merasakan pengalaman dan hal hal luar biasa dalam megahnya panggung kehidupan, contoh kecilnya ketika kita hanya diam dan menikmati segala sesuatu sesuai dengan semestinya yang kita dapat sama seperti 1+1= 2. rumus pasti hidup tentunya seperti itu, padahal tuhan sendiri memberikan kita banyak kesempatan untuk mengubah banyak hal untuk kehidupan ini. ya maka nikmatilah banyak hal dengan berpergian dan berjalanan lah keluar dari hirup pikuk pekerjaan yang mengarahkanmu pada ketamakan dan keangkuhan materi.

Awalnya saya hanya percaya bahwa perjalanan adalah liburan yang berada diakhir tahun atau pertengahan tahun dan hanya sekedar membuang penat dari ambisinya dasi kerja yang mengikat. sampailah saya pada kenyataan untuk memilih pergi berlibur mengajak teman saya sulton, kami berangkat dengan perjalanan udara selama 12 jam dari saudi arabia menuju kampung halaman Indonesia hanya demi sebuah perjalanan, yang akhirnya mengikat banyak hal yang merubah banyak hal yang menyiksa otak dan pikiran kita karena pekerjaan.

Hanya bermimpi mulanya saya dan sulton ingin mengenal sianggun dewi anjani yang berada pada ketinggian 3726 mdpl, yang pada akhirnya kami sanggup menggapai mimpi itu. setibanya kami dijakarta kami langsung memburu perlatan pendakian yang cukup menyiksa kantong, karena memang sulton newbie dalam pendakian. setelah semuanya selesai pada prosesnya, saya menghubungi teman seperjuangan dalam pendakian Idung. ya kami bertiga berkelana dari jakarta menuju surabaya untuk menemui tim pendakian bersama yang berjudul we save rinjani part 3.


Dari surabaya kami melakukan perjalanan darat sampai lombok, yang mungkin memakan waktu +/- 12 jam perjalanan, capek penat dan hampir emosi karena yang dilihat kanan kiri hanya jalan aspal lagi jalan aspal lagi dan sawah hijau pepohonan serta dengkuran dari teman satu tim yang merasa letih karena letih dengan lamanya perjalanan darat yang kami lakoni. tapi ada masanya mulut dan mata ini tidak hentinya mengucap syukur karena pemandangan pada pelabuhan padang bay sangat memanjakan mata kami, ya padang may memang menyihir letih kita semua menjadi haru biru bak memenangkan medali emasi saat olimpiade.

 Apalagi yang bangsa ini butuhkan dengan pemandangan alam yang maha dahsyat dan keberagaman yang elok, masih saja ada oknum oknum yang memecah kita satu sama lain nya.
maka habiskanlah banyak waktumu untuk menikamati perjalanan dinegrimu dulu baru kalian bandingkan dengan negara lain. dan sudah pasti juaranya adalah INDONESIA.

Setibanya kami dilombok, kami bergegas menuju pos simaksi gunung rinjani untuk mendaftarkan tim kami dan segera menaiki mobil pick up menerabas banyak jalanan yang entah menuju kemana, setibanya kami pada titik tertentu leader kita memberi arahan bahwa kami harus berjalan +/- 2 jam menuju pos dua, syukur alhamdulillah kami tiba dengan membuat tenda yang berisi 4 orang. saya sulton idung dan iyan, kami langsung membaur untuk kenyamanan satu sama lainnya. malam pertama digunung indah itu sungguh senyaman surga. Pemandangan hotel 1000 bintang yang  aduhai.

Pagi hari kami kembali melanjutkan perjalanan menuju pelawangan sembalun dengan jerih letih dan payah, hampir habis daya upaya ini karena pada saat itu saya ditinggal dan memilih bergabung dengan tim lain untuk menuju titik camp kedua diatas pelawangan sembalun yang memakan waktu +/- 8 jam dari pos dua. putus asa sudah lemah letih lesu karena berjalan bukan pada tim yang semestinya. sesampainya pelawangan sembalun tenda pun sudah berdiri tegak untuk kapten tim yang terlambat dengan nafas terpingkal pingkal.


Kami memang bukan pemeran 5cm tapi kami mampu mengubah rasa letih dengan kebersamaan jenaka yang tidak terganti oleh pundi pundi rupiah.
in picture : nurrohman, sulton hasan, iyan, shandy agus (idung)

Hari kedua diatas sana kami melanjutkan perjalanan untuk tiba pada puncak anjani, summit attack istilah persiapan pada dini hari kami melawan dinginnya udara kala itu yang sangat menusuk tulang dan membuat nyali menjadi ciut untuk terus menapak lurus, namun jika gagal kami harus mengulangnya dihari esok. kata kata semangat terus kami ucap satu sama lain untuk membakar nyali menembus melawan dingin nya udara dan kabut sendu dipagi hari. langkah kaki kecil ini sudah tidak kuat lagi namun puncak sudah tepat berada diujung mata, maka terucaplah aku mampu menggapaimu dewi anjani dengan keanggunan abadi yang tidak dapat dimilik oleh puncak manapun.


"Percayalah sebuah proses tidak akan menghianati hasil"

Gunung rinjani 29 desember 2016